Oleh : Darma Siregar
Ada rasa cemburu yang diam-diam tumbuh di dalam hati. Dulu, ayah adalah sosok yang seolah hanya menjadi milikku. Waktu, perhatian, tawa, bahkan pelukan hangatnya terasa begitu hangat untuk keluarga. Kini, aku harus belajar menerima bahwa ayah bukan lagi hanya untukku. Ayah telah menjadi milik banyak orang, milik masyarakat yang menitipkan harapan dan amanah lewat setiap aspirasi yang mereka percayakan.
Â
Sering aku ingin egois. Aku ingin memiliki lebih banyak waktu bersama ayah, ingin kembali merasakan hari-hari ketika tidak ada rapat yang lama, tidak ada panggilan tugas yang mengganggu, dan tidak ada orang banyak yang menunggu ayah. Terkadang aku merasa cemburu kepada mereka yang bisa berbagi perhatian dengan ayah, karena aku tahu, setiap langkah yang ayah ambil selalu didedikasikan untuk mengabdi kepada mereka.
Â
Namun, seiring aku tumbuh, semakin aku memahami bahwa pengorbanan ayah bukanlah bentuk menjauh dari keluarga, melainkan wujud cinta yang dibentangkan. Ayah memilih untuk menjadi tempat tumpuan harapan bagi banyak orang, memikul amanah yang tak ringan, dan berusaha mewujudkan harapan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Â
Di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu membuatku tenang. Ayah tak pernah benar-benar jauh. Di balik segala kesibukan dan tanggung jawab yang begitu besar, ayah selalu menapaki jalan untuk pulang. Ayah tetap hadir dalam setiap ketegasan, kasih sayang, dalam setiap nasihat yang mencerahkan, dalam genggaman tangan yang tak pernah lepas ketika aku terjatuh.
Â
Yang paling berharga, ayah tetap percaya kepadaku. Bahkan ketika dunia memilih untuk meragukanku, ketika banyak orang hanya melihat kekuranganku, ayah selalu melihat kemampuanku. Ketika aku merasa lemah, ayah tak pernah menjadi orang pertama menyalahkan ku, melainkan orang pertama yang menguatkan dan mengingatkanku bahwa aku mampu bangkit kembali.
Â
Mungkin kini aku harus berbagi ayah dengan begitu banyak orang. Mungkin ayah tak lagi hanya menjadi milikku. Tetapi aku tahu, di dalam hati ayah, tetap ada ruang yang tak tergantikan bagi keluarganya. Dan itu membuatku percaya bahwa sejauh apa pun ayah melangkah menjauh untuk mengabdi kepada masyarakat, aku akan selalu menjadi anak yang pulang ke pelukan yang hangat—pelukan seorang ayah yang tak pernah berhenti mencintai, dan seorang ayah yang terus memunajatkan kebaikan untuk anaknya.
- Bersambung….

