Panyabungan, ( SR Madina News) — Hujan membasuh pelataran Masjid Agung Nur Alan Nur Aek Godang, Desa Parbangunan, seakan menjadi langit ikut hadir memberi penghormatan. Namun di bawah tirai air itu, upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 tetap berlangsung khidmat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Selasa pagi, (25/11/2025)
Barisan peserta berdiri tenang, tidak gentar oleh cuaca. Seragam yang basah, payung yang sederhana, dan langkah yang perlahan tidak mampu menghalangi penghormatan kepada mereka yang mengabdikan hidupnya pada ilmu. Di antara lantunan doa dan suara yang tertahan udara basah, para guru diperingati sebagai pelita yang menggiring manusia keluar dari gelap menuju terang.
Upacara dimulai sesuai jadwal. Para siswa, tenaga pendidik, dan tokoh masyarakat hadir tanpa ragu. Mereka membiarkan hujan menjadi saksi, bahwa tidak ada badai yang mampu memadamkan nyala dedikasi seorang guru. Di setiap wajah yang menunduk, terkandung penghargaan: pengetahuan bukan sekadar huruf-huruf di buku, tetapi cahaya yang dititipkan dari hati ke hati.
Meski langit meneteskan air tanpa henti, suasana tetap tenang. Tidak ada kericuhan, tidak ada kegelisahan—hanya kesetiaan pada nilai yang mereka junjung. Hari Guru Nasional bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah pengakuan bahwa guru adalah penjaga waktu, menanam masa depan dalam dada anak-anak bangsa.
Di pelataran masjid itu, air hujan menyatu dengan tanah. Para guru berdiri, seperti pohon yang tetap teguh meski diterpa angin. Dan seluruh hadirin tahu, jika bangsa ini kelak melangkah lebih jauh, jejaknya akan selalu berawal dari langkah kecil seorang guru—yang mengajar tanpa henti, meski dunia seolah menutup mata.(DS 01)

