Madina, (SR Madina News) – Ada cerita mengharukan di balik keberhasilan Kontingen Mandailing Natal (Madina) menembus jajaran tiga besar Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) tingkat Sumatera Utara.
Di saat daerah lain melaju dengan dukungan fasilitas dan anggaran pemerintah, para santri asal Madina justru terbang ke arena perlombaan dengan modal nekat, keringat, dan iuran seadanya.
Tanpa sepeser pun bantuan anggaran dari Pemkab Madina, kontingen ini tetap berangkat. Keberangkatan mereka bukan atas nama birokrasi, melainkan hasil patungan dan gotong royong para guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), orang tua santri yang rela menyisihkan rezeki, para donatur, hingga uluran tangan dari Partai Golkar Madina dan PT Antar Lintas Sumatra (ALS).
Hasilnya? Di luar dugaan. Sebanyak 17 medali berhasil diborong dan dibawa pulang ke bumi Gordang Sambilan, membuktikan bahwa semangat juang santri tidak bisa dibeli dengan anggaran birokrasi yang kerap macet.
Perwakilan PT ALS, Nis’at Sidik, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat dimintai tanggapan pada Selasa (27/10/2026). Di tengah keterbatasan yang ada, prestasi ini justru terasa jauh lebih megah.
“Meski pemberangkatan dengan susah payah, Alhamdulillah Kontingen Madina meraih medali dan ini prestasi yang membanggakan,” ujarnya penuh syukur.
Kisah ini tamparan sekaligus catatan penting. Ketika anak-anak muda berprestasi mampu mengharumkan nama daerah dengan cara swadaya, di mana posisi pemerintah daerah saat anggaran benar-benar dibutuhkan?
Semoga capaian manis ini tidak hanya menjadi tepuk tangan sesaat, tetapi juga membuka mata para pemangku kebijakan di Madina agar lebih peduli pada nasib generasi penerus di masa mendatang.(DarmaSir)
Madina, (SR Madina News) – Ada cerita mengharukan di balik keberhasilan Kontingen Mandailing Natal (Madina) menembus jajaran tiga besar Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) tingkat Sumatera Utara.
Di saat daerah lain melaju dengan dukungan fasilitas dan anggaran pemerintah, para santri asal Madina justru terbang ke arena perlombaan dengan modal nekat, keringat, dan iuran seadanya.
Tanpa sepeser pun bantuan anggaran dari Pemkab Madina, kontingen ini tetap berangkat. Keberangkatan mereka bukan atas nama birokrasi, melainkan hasil patungan dan gotong royong para guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), orang tua santri yang rela menyisihkan rezeki, para donatur, hingga uluran tangan dari Partai Golkar Madina dan PT Antar Lintas Sumatra (ALS).
Hasilnya? Di luar dugaan. Sebanyak 17 medali berhasil diborong dan dibawa pulang ke bumi Gordang Sambilan, membuktikan bahwa semangat juang santri tidak bisa dibeli dengan anggaran birokrasi yang kerap macet.
Perwakilan PT ALS, Nis’at Sidik, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat dimintai tanggapan pada Selasa (27/10/2026). Di tengah keterbatasan yang ada, prestasi ini justru terasa jauh lebih megah.
“Meski pemberangkatan dengan susah payah, Alhamdulillah Kontingen Madina meraih medali dan ini prestasi yang membanggakan,” ujarnya penuh syukur.
Kisah ini tamparan sekaligus catatan penting. Ketika anak-anak muda berprestasi mampu mengharumkan nama daerah dengan cara swadaya, di mana posisi pemerintah daerah saat anggaran benar-benar dibutuhkan?
Semoga capaian manis ini tidak hanya menjadi tepuk tangan sesaat, tetapi juga membuka mata para pemangku kebijakan di Madina agar lebih peduli pada nasib generasi penerus di masa mendatang.(DarmaSir)
