Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang strategis untuk memperkenalkan identitas, kekayaan budaya, serta potensi setiap kabupaten dan kota kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, setiap daerah seharusnya diberikan kesempatan untuk menampilkan representasi budayanya secara utuh dan berimbang.
Sebagai salah satu kabupaten yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, Mandailing Natal semestinya tidak hanya diwakili oleh budaya Mandailing saja. Memang, budaya Mandailing merupakan identitas besar yang telah dikenal secara nasional melalui adat istiadat, seni musik Gordang Sambilan, tari tradisional, pakaian adat, hingga falsafah hidup masyarakatnya. Namun, Mandailing Natal bukan hanya Mandailing.
Di lansir dari Mandailing Online, Kabupaten ini memiliki keberagaman budaya yang lahir dari kondisi geografis dan sejarah yang berbeda. Di wilayah pesisir Pantai Barat terdapat masyarakat dengan tradisi, kesenian, bahasa, kuliner, dan adat yang memiliki karakteristik tersendiri. Kekayaan budaya pesisir tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Mandailing Natal. Dan ada Juga Tanah Hulu Yang Kita Kenal Dengan Kecamatan Muara Sipongi yang Juga Memiliki Budaya, seni, Bahasa , Dan Adat Sumondo Yang Juga Tidak Terpisahkan Dari Profil Kabupaten Mandailing Natal, Justru keberagaman inilah yang menjadi kekuatan daerah, sekaligus memperkaya mozaik budaya Sumatera Utara.
Sangat disayangkan apabila dalam pelaksanaan Pekan Raya Sumatera Utara tahun ini, pertunjukan seni dan budaya yang ditampilkan lebih didominasi oleh budaya Mandailing. Dominasi tersebut tentu tidak mengurangi nilai budaya Mandailing yang memang sangat luhur, tetapi di sisi lain menyisakan pertanyaan mengenai representasi budaya masyarakat pesisir Pantai Barat yang juga merupakan bagian resmi dari Kabupaten Mandailing Natal.
Budaya pesisir memiliki daya tarik yang unik. Mulai dari seni pertunjukan, musik tradisional, adat istiadat, bahasa, kuliner laut, hingga tradisi masyarakat nelayan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keunikan inilah yang sesungguhnya dapat menjadi nilai tambah dalam promosi pariwisata dan budaya Sumatera Utara. Wisatawan maupun masyarakat luar daerah akan memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kekayaan budaya Mandailing Natal apabila seluruh unsur budayanya diberikan ruang untuk tampil.
Pelestarian budaya tidak hanya berarti menjaga tradisi yang telah dikenal luas, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama kepada budaya-budaya lokal yang belum banyak diperkenalkan. Ketika salah satu unsur budaya terus-menerus menjadi representasi tunggal, sementara unsur budaya lainnya kurang memperoleh ruang, maka secara perlahan akan muncul kesenjangan dalam upaya pelestarian dan regenerasi budaya.
Ke depan, pemerintah daerah bersama panitia penyelenggara diharapkan dapat lebih bijaksana dalam menentukan konsep representasi budaya pada setiap event tingkat provinsi maupun nasional. Hal-hal yang tampak kecil, seperti pemilihan jenis pertunjukan seni atau delegasi budaya, sesungguhnya memiliki dampak besar terhadap pengakuan identitas masyarakat, rasa memiliki, dan keberlanjutan warisan budaya.
Representasi budaya yang inklusif bukan berarti mengurangi nilai budaya Mandailing, melainkan memperkuat citra Mandailing Natal sebagai daerah yang kaya akan keberagaman. Ketika budaya Mandailing dan budaya masyarakat pesisir Pantai Barat dapat tampil berdampingan, masyarakat akan melihat wajah Mandailing Natal yang sesungguhnya: sebuah daerah yang memiliki kekayaan adat, seni, tradisi, dan kearifan lokal yang saling melengkapi.
Sudah saatnya Mandailing Natal diperkenalkan kepada publik bukan hanya melalui satu identitas budaya, tetapi melalui keseluruhan warisan budayanya. Dengan demikian, Pekan Raya Sumatera Utara benar-benar menjadi panggung yang mencerminkan keberagaman budaya Sumatera Utara secara adil, proporsional, dan membanggakan bagi seluruh masyarakatnya.
