Madina (SR Madina News) — Isu miring terkait dugaan monopoli hingga penggelapan pupuk bersubsidi yang sempat memicu keresahan warga Desa Roburan Lombang, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), akhirnya menemui titik terang Rabu, (21/10/2026).

Keresahan dan simpang siur informasi yang beredar luas di tengah masyarakat tersebut berhasil diredam melalui forum musyawarah desa yang digelar secara terbuka.
Pertemuan tersebut menghadirkan langsung seluruh elemen terkait, mulai dari jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal, Camat Panyabungan Selatan, pihak distributor pupuk resmi, hingga jajaran pemerintah desa serta puluhan warga dan petani setempat.
Penimbunan pupuk bersubsidi yang sempat memanaskan suasana dan ramai diperbincangkan di grup-grup media sosial Madina tegas dibantah oleh warga.

H. Parlindungan, pemilik kios pupuk di desa Roburan Lombang, mengklarifikasi bahwa kegaduhan yang terjadi selama ini dipicu oleh salah paham terkait kendala teknis pelaporan penyaluran, bukan karena tindakan kecurangan.
”Subsidi pupuk di Desa Roburan Lombang ini ternyata tidak seperti berita simpang siur yang beredar di grup-grup WhatsApp Madina. Bukannya ada penggelapan pupuk, itu tidak ada sama sekali. Tadi sudah dijelaskan secara transparan oleh pihak distributor,” ujar H. Parlindungan usai mengikuti musyawarah.
Menurutnya, akar permasalahan sebenarnya terletak pada pembaruan data administrasi kelompok tani yang belum tuntas.
”Masalahnya murni di laporan penyaluran. KTP anggota kelompok tani yang terdaftar di RDKK [Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok] masih menggunakan data lama dan belum direvisi. Akibatnya, ada nama yang terdaftar tapi orangnya sudah tidak ada di desa kita, atau foto KTP-nya belum lengkap. Hal inilah yang membuat distributor tidak bisa menerbitkan laporan penyaluran untuk mencairkan pupuk,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Roburan Lombang, Muhammad Idris, membenarkan bahwa keterlambatan pasokan pupuk sempat membuat para petani merasa cemas akan potensi penurunan hasil panen hingga ancaman gagal panen.
”Awal cerita ini sebenarnya karena keterlambatan pasokan pupuk. Masyarakat kami mengeluh dan resah, karena saat ini tanaman sangat membutuhkan pemupukan. Karena ketersediaan pupuk terbatas, kami bersama seluruh warga meminta ketegasan dan solusi dari pihak dinas maupun distributor agar masyarakat bisa memupuk sawahnya dengan tenang,” ungkap Muhammad Idris.
Idris menyampaikan rasa syukurnya lantaran dalam musyawarah tersebut, pihak penyalur dan dinas terkait langsung mengambil langkah diskresi untuk menangani kelangkaan mendesak di desanya.
”Alhamdulillah, ada solusi konkrit. Kami sangat bersyukur karena kekhawatiran warga soal gagal panen bisa diatasi. Kami dari pihak desa tidak meminta yang macam-macam, hanya ingin desa kami makmur dan petani sejahtera,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat dalam jangka pendek, pasokan pupuk bersubsidi akan segera dialihkan dari pasokan toko lain untuk dialokasikan ke pengecer lokal di Roburan Lombang, yaitu UD Riski.
”Solusi cepatnya, pasokan dari distributor ditarik dari alokasi lain untuk didistribusikan ke UD Riski. Disepakati ada tambahan sekitar 10 ton Urea dan 10 ton NPK,” jelas Idris.
Ia membeberkan skema pendaftarannya secara rinci:
3 Hari ke depan: Tahap pertama pupuk jenis Urea sebanyak 10 ton akan diturunkan ke pengecer desa.
5 Hari setelahnya: Tahap kedua pupuk jenis NPK sebanyak 10 ton menyulut penyaluran berikutnya.
Meski demikian, Kades Roburan Lombang mengakui bahwa kuota 20 ton tersebut sebenarnya belum mampu mencukupi keseluruhan luas hamparan sawah di desanya.
”Jujur saja, 20 ton itu sebenarnya belum menutupi seluruh kebutuhan. Idealnya untuk hamparan sawah kita minimal butuh sekitar 30 ton. Namun untuk menanggulangi kondisi darurat saat ini, pasokan ini sangat membantu. Ke depannya, pihak desa tentu akan mengajukan usulan penambahan kuota resmi ke dinas dan distributor agar kebutuhan petani benar-benar terpenuhi secara ideal,” tutupnya.
Dengan tercapainya kesepakatan dalam musyawarah tersebut, suasana di Desa Roburan Lombang kini telah kembali kondusif. Para petani menyambut baik kepastian jadwal penurunan pupuk sehingga proses pemeliharaan tanaman sawah dapat segera dilanjutkan.(DarmaSir)
Madina (SR Madina News) — Isu miring terkait dugaan monopoli hingga penggelapan pupuk bersubsidi yang sempat memicu keresahan warga Desa Roburan Lombang, Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), akhirnya menemui titik terang Rabu, (21/10/2026).
Keresahan dan simpang siur informasi yang beredar luas di tengah masyarakat tersebut berhasil diredam melalui forum musyawarah desa yang digelar secara terbuka.
Pertemuan tersebut menghadirkan langsung seluruh elemen terkait, mulai dari jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal, Camat Panyabungan Selatan, pihak distributor pupuk resmi, hingga jajaran pemerintah desa serta puluhan warga dan petani setempat.
Penimbunan pupuk bersubsidi yang sempat memanaskan suasana dan ramai diperbincangkan di grup-grup media sosial Madina tegas dibantah oleh warga.
H. Parlindungan, pemilik kios pupuk di desa Roburan Lombang, mengklarifikasi bahwa kegaduhan yang terjadi selama ini dipicu oleh salah paham terkait kendala teknis pelaporan penyaluran, bukan karena tindakan kecurangan.
”Subsidi pupuk di Desa Roburan Lombang ini ternyata tidak seperti berita simpang siur yang beredar di grup-grup WhatsApp Madina. Bukannya ada penggelapan pupuk, itu tidak ada sama sekali. Tadi sudah dijelaskan secara transparan oleh pihak distributor,” ujar H. Parlindungan usai mengikuti musyawarah.
Menurutnya, akar permasalahan sebenarnya terletak pada pembaruan data administrasi kelompok tani yang belum tuntas.
”Masalahnya murni di laporan penyaluran. KTP anggota kelompok tani yang terdaftar di RDKK [Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok] masih menggunakan data lama dan belum direvisi. Akibatnya, ada nama yang terdaftar tapi orangnya sudah tidak ada di desa kita, atau foto KTP-nya belum lengkap. Hal inilah yang membuat distributor tidak bisa menerbitkan laporan penyaluran untuk mencairkan pupuk,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Roburan Lombang, Muhammad Idris, membenarkan bahwa keterlambatan pasokan pupuk sempat membuat para petani merasa cemas akan potensi penurunan hasil panen hingga ancaman gagal panen.
”Awal cerita ini sebenarnya karena keterlambatan pasokan pupuk. Masyarakat kami mengeluh dan resah, karena saat ini tanaman sangat membutuhkan pemupukan. Karena ketersediaan pupuk terbatas, kami bersama seluruh warga meminta ketegasan dan solusi dari pihak dinas maupun distributor agar masyarakat bisa memupuk sawahnya dengan tenang,” ungkap Muhammad Idris.
Idris menyampaikan rasa syukurnya lantaran dalam musyawarah tersebut, pihak penyalur dan dinas terkait langsung mengambil langkah diskresi untuk menangani kelangkaan mendesak di desanya.
”Alhamdulillah, ada solusi konkrit. Kami sangat bersyukur karena kekhawatiran warga soal gagal panen bisa diatasi. Kami dari pihak desa tidak meminta yang macam-macam, hanya ingin desa kami makmur dan petani sejahtera,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat dalam jangka pendek, pasokan pupuk bersubsidi akan segera dialihkan dari pasokan toko lain untuk dialokasikan ke pengecer lokal di Roburan Lombang, yaitu UD Riski.
”Solusi cepatnya, pasokan dari distributor ditarik dari alokasi lain untuk didistribusikan ke UD Riski. Disepakati ada tambahan sekitar 10 ton Urea dan 10 ton NPK,” jelas Idris.
Ia membeberkan skema pendaftarannya secara rinci:
3 Hari ke depan: Tahap pertama pupuk jenis Urea sebanyak 10 ton akan diturunkan ke pengecer desa.
5 Hari setelahnya: Tahap kedua pupuk jenis NPK sebanyak 10 ton menyulut penyaluran berikutnya.
Meski demikian, Kades Roburan Lombang mengakui bahwa kuota 20 ton tersebut sebenarnya belum mampu mencukupi keseluruhan luas hamparan sawah di desanya.
”Jujur saja, 20 ton itu sebenarnya belum menutupi seluruh kebutuhan. Idealnya untuk hamparan sawah kita minimal butuh sekitar 30 ton. Namun untuk menanggulangi kondisi darurat saat ini, pasokan ini sangat membantu. Ke depannya, pihak desa tentu akan mengajukan usulan penambahan kuota resmi ke dinas dan distributor agar kebutuhan petani benar-benar terpenuhi secara ideal,” tutupnya.
Dengan tercapainya kesepakatan dalam musyawarah tersebut, suasana di Desa Roburan Lombang kini telah kembali kondusif. Para petani menyambut baik kepastian jadwal penurunan pupuk sehingga proses pemeliharaan tanaman sawah dapat segera dilanjutkan.(DarmaSir)
